Sekarang ini aku ikut acara perkemahan yang diadakan oleh sekolahku untuk mengisi kegiatan liburan sekolah. Sebenarnya aku males banget sama yang namanya camping. Mending tidur aja di rumah. Kalo nggak gara-gara aku jadi wakil Ketua OSIS yang mesti ikut acara kayak gini paling aku bakalan melarikan diri trus ke “pantai indah kapuk” maksudnya ngorok di kasur hehehe. Kalo aku jadi ketua OSIS programku yang utama adalah menghilangkan kegiatan liburan sekolah, yang namanya liburan pasti nggak ada kegiatan donk hehehe. Tapi yang bikin aku bersemangat karena sang Ketua OSIS, Dito juga ikut apalagi dia salah satu panpelnya. Udah lama nih aku naksir dia, udah dari kelas satu SMA, tapi Cuma jadi secret admirer doank.
Hawa dingin sudah mulai menyelimuti tubuhku. Tulang-tulangku udah mulai linu. Aku nggak habis pikir kenapa camping selalu di gunung? Kenapa nggak pernah camping di mall khan asyik sekalian bisa cuci mata.
Tiba-tiba seseorang menyelimuti tubuhku yang mungkin udah kayak es batu ini dari belakang. Oh My Ghost!!!!! Ternyata Dito yang menyelimuti tubuhku dengan jaket miliknya.
“Thanks” ucapku berusaha santai sambil menenangkan hatiku yang udah loncat-;oncatan nggak karuan. Diapun membalas senyumku.
Hening. Aku nggak tahu mesti mulai pembicaraan dari mana. Bingung plus deg-degan bisa sedekat ini bareng cowok ganteng yang jadi pujaan semua cewek di sekolahku termasuk aku sendiri. Akhirnya Dito yang memecah keheningan duluan “Sekarang kita mau kemana nih?”
“Kita balik aja ke tenda ya. Aku takut kalo teman-teman nyariin kita.” Usulku.
Kalo boleh jujur sih aku pengen banget bilang “Kita di sini aja sampai pagi menjelang. Aku ingin terus berada di sampingmu.” Namun itu nggak mungkin terjadi. Secara, biarpun aku wakil ketua OSIS tapi aku tuh kuper banget, nggak supel kayak Dito yang jadi idaman setiap cewek di sekolahku bahkan pernah ada seorang model yang naksir berat tapi ditolak mentah-mentah olehnya. Tuh anak agak nggak beres deh, ditaksir sama cewek cantik malah nggak mau, katanya dia lagi nunggu sang bidadari yang di siapkan Tuhan untuknya. Puitis banget khan.
Yah memang nasibku yang nggak mungkin mendapatkan seorang pangeran dari negeri khayalan seperti dia itu. Perkemahan akan berakhir. Itu berarti aku dan dia akan kembali ke kehidupan yang sesungguhnya, Dito masih tetap jadi idola sedangkan aku pasti akan kembali menjadi cewek kuper yang terlupakan.
Saat sudah sampai di depan tendaku, aku mendengar Dito memanggilku. Akupun menoleh ke arahnya.
“Kamu tau nggak Ay?” Tanyanya membuat penasaran.
“Tentang apa?” tanyaku balik.
“Kamu baik banget!!!!.” Ucapnya sambil tersenyum sangat manis di hadapanku. Aku merasa tersanjung. Diapun melanjutkan kalimatnya yang terputus oleh senyum manisnya itu. “Kamu adalah sahabat terbaikku saat ini dan untuk selamanya, Aya.”
Rasanya aku ingin bunuh diri dari tower WTC di AS sana tapi isban udah roboh . Siapa sih yang nggak sedih, kesel, benci dan marah kalo ternyata orang yang dicintai itu hanya mengatakan “Kau adalah temanku. Hanya temanku!!!”
Tapi ya sudahlah daripada aku tidak bisa berdekatan dengannya lagi lebih baik aku mulai mencoba menganggapnya “HANYA” sahabat ( aku tekankan ucapan itu karena aku keseeeeeeeeeeeellllll banget dengan ucapan yang hanya sebuah HANYA ). Namun sebenarnya aku ingin mengatakan kepadanya dengan micropon yang paling keras kalo perlu toa sekalian biar dia dan semua orang di dunai ini dengar bahwa “aku tidak ingin HANYA jadi sahabatmu tapi kekasihmu yang akan menemanimu menghabiskan sisa hidupmu!”
Namun aku mencoba mengatakan “Kau juga sahabat terbaikku, Dit” meskipun dalam hatiku yang paling dalam dan kecilpun tak rela mengatakannya.
Akupun langsung masuk ke tenda. Aku tak ingin Dito melihat diriku yang saat ini sangat hancur dan lapuk. Menutup wajah terutama diriku yang tak berguna ini dengan bantal dan tak menghiraukan Sonya, teman satu tendaku yang bingung melihat tingkah anehku. Aku mencoba menguatkan diri. Aku nggak apa-apa! Aku bisa melewatinya sendirian! Namun itu tak banyak membantu, air mataku terlanjur mengalir deras di pipiku.
“Ay, lo dicariin Dito.” Sonya memberitahuku. Aku tak menjawabnya. Sonyapun kembali keluar. Tak berapa lama seseorang membuka tendaku. Ternyata Dito yang membukanya.
“Hai Ay” sapanya dengan senyum manisnya.
“Ada apa?!” tanyaku ketus.
“Mmm…apa kemarin aku bilang kalo kamu adalah sahabat terbaikku?” tanyanya dengan wajah lucunya biarpun dia bertanya serius. Aku memaksa untuk tertawa. “Sudahlah, lebih baik kita beres-beres dulu. Aku masih belum beres-beres nih. Bentar lagi khan kita pulang.”
Saat di bus pun aku hanya diam seribu bahasa dengannya maupun dengan teman-temanku yang lain. Saat ini aku pengen berenang di laut Artik biar aku lupa dengan kejadian yang memalukan, menyedihkan, menyebalkan itu!!!!!
Hari ini tepat seminggu Dito menganggap aku HANYA teman terbaiknya. Aku harus bisa melupakan perasaan hatiku yang tak mungkin terbalaskan. Hubunganku sekarang tak lebih only friend!!!!
Apakah ini yang disebut sakit hati??? Kenapa harus sesakit ini?!!!!!!! Apakah aku harus menyerah dan mengutuk diriku yang sama sekali nggak berdaya ini??? Tidak!!! Masih banyak yang dapat aku lakukan untuknya. Kalau dia menganggap diriku teman terbaiknya, aku harus bisa jadi teman terbaiknya. Aku tak akan mengecewakannya, itu tekadku!
Apa-apaan sih ini?!!!! Ni orang nggak salah ngajak orang kali. Masa’ cowok sekeren dia ngajak aku yang kuper ini ngedate? Seorang cowok yang tak kalah keren dibanding Dito mengajakku ngedate. Ya, Fa’I mengajakku makan malam di restoran milik bokapnya. Katanya sih Cuma pengen ngajak ngobrol aku aja, tapi Sonya bilang kalau sebenarnya Fa’I akan menembakku saat makan malam itu. Aku bingung!!!bingung!!!!!
Sonya bilang aku mesti dan harus mengiyakan ajakan Fa’i. Tapi aku bingung. Di dalam hatiku masih tersimpan rapat dan rapi kenanganku tentang Dito. Apa yang harus aku lakukan???
Akhirnya aku melaksanakan saran Sonya untuk menanyakan pendapat Dito tentang ajakan Fa’i. karena selain masalah hatiku, mereka berdua ternyata masih teman dekat. Mungkin dengan begitu aku bisa minta saran Dito kalau Fa’I menembakku nanti, Dito pasti tahu tentang Fa’i.
Namun aku harus menelan pil kekecewaan. Karena hari ini Dito nggak masuk sekolah. Kabarnya sih dia lagi sakit. “Udah tiga hari dia nggak masuk” jawab Seno, ketua kelas Dito saat aku tanya soal Dito. Wah berarti parah banget ya sakitnya. Kamu sakit apa, Arjunaku????
Sepulang sekolah, tanpa mencopot sepatu aku langsung ke meja telepon. Aku takut. Rasanya tombol-tombol telepon itu sangat menyeramkan dan akan menerkamku sewaktu-waktu. Tapi aku harus memberanikan diri sebelum aku berubah pikiran.
Tuut…tuuut….cklek! ada yang menjawab.
“Hallo?!” nggak ada jawaban.
“Mau mencari siapa ya?” Oh my Ghost!!!!! Itu suara Dito, dia yang menjawab teleponku! Rasanya aku benar-benar ingin pingsan saat ini juga. Sudah lama aku nggak mendengar suara merdu miliknya itu.
“Hallo!!!!”ucapnya lagi namun sedikit keras karena tidak ada jawaban dariku.
“Oh, eh, ini…a…aku, Aya” jawabku gugup. Sial! Aku nggak boleh kayak gini!!!
Setelah aku menata hatiku yang seperti suara karang yang diterpa badai yang sangat keras, aku mencoba menanyakan keadaannya. “Kamu sakit apa? Parah ya?”
“Nggak kok cuma flu biasa tapi kata dokter nggak boleh masuk dulu. Biar pulih dulu. Kalo aku masuk sekarang bisa-bisa kamu ketularan lagi. Aku khan nggak mau kamu sakit.”
Hah?! Dia mengkhawatirkanku? Apa maksudnya? Apa cuma perasaanku aja yang terlalu berharap?
“Apa maksudnya?” terpaksa kutanyakan daripada ntar malah bikin aku sengsara menjawab pertanyaanku itu. Lebih baik kecewa daripada tak peduli.
Ah… Nggak. Aku nggak pengen aja temanku yang paling baik sampai sakit.”
Aku mencoba menyadari kalau nggak mungkin dia menganggap aku lebih dari seorang sahabat.
Dia mulai mencairkan suasana dengan menanyakan keadaan sekolah selama dia tidak masuk. Akupun menceritakan semuanya. Tak terkecuali dengan ajakan Fa’I nanti malam. Tanpa kuduga sebelumnya setelah aku menceritakan ajakan Fa’I sikapnya berubah total. Aku sulit menebak apa yang ada di hati dan kepalanya saat ini. Benar-benar sebuah teka-teki yang tak ada jawabannya. Semoga dia baik-baik saja.
Akhirnya aku jadi makan malam dengan Fa’i. benar apa yang dikatakan Sonya ternyata Fa’I menembakku. Sekarang ini aku nggak berani membuat keputusan daripada penyesalan yang menghampiriku. Biarpun itu adalah makan malam yang paling special dalam hidupku, aku sama sekali nggak bisa menikmatinya. Selama makan malam yang ada di benakku bukanlah Fa’I yang keren banget pake kemeja putih berkerah dengan wajah menawan melainkan Dito yang sekarang tak berdaya di tempat tidur.
“Dia lagi ngapain ya? Apa dia udah makan? Dia kangen nggak denganku?” pertanyaan terakhir itulah yang membuatku tersentak untuk menyadari bahwa dia hanya menganggapku sebagai seorang teman nggak lebih. Kenyataanlah yang mengharuskanku untuk menerima bahwa aku sekarang sedang bersama Fa’I dan aku nggak boleh memikirkan orang lain saat ini.
***
Saat aku dan Fa’I sudah sampai di depan rumahku setelah makan malam, entah aku sedang berkhayal atau bermimpi tapi aku melihat Dito sedang bersandar dipagar rumahku. Dia memakai jaket pemberianku yang katanya adalah jaket favoritnya itu. Wajahnya terlihat sangat pucat karena kondisinya yang sepertinya belum seratus persen pulih. Akupun menghampirinya. Aku takut kalau terjadi apa-apa dengannya. Setelah aku mengucapkan permintaan maaf dan terima kasih telah mengajakku dinner yang bagiku paling romantis akhirnya Fa’I mengerti. Diapun pamit pulang.
Lima menit berlalu tanpa ada pembicaraan sama sekali. Garing banget nih!!!!
Tiba-tiba…“Aku nggak mau kita bersahabat lagi!!!” ucap Dito tegas.
Hah?!!!!! Kenapa?? Ada apa?? Apa yang terjadi???? Rentetan pertanyaan itu yang sekarang ada di kepalaku. Rasanya batinku ingin berteriak. Tak terasa lelehan air mata menggenangi pipiku. Lagi-lagi aku harus menangis, kegiatan yang tabu bagiku hanya gara – gara dia!!! Menyebalkan!! Kenapa aku serasa begitu lemah di depan dia?! Kenapa aku tak berdaya kalau ada di sampingnya.
Apa yang aku perbuat sampai-sampai Dito nggak mau bersahabat denganku lagi??!!!! Aku hanya bisa menunduk. Aku tidak ingin dia sampai tahu kalau aku menangis.
Perlahan tangan halusnya menyentuh pipiku dan menghapus air mata yang ada di pipiku.
“Aku nggak mau lagi jadi sahabatmu. Tapi aku ingin jadi…….jadi…..seorang yang special buatmu. Aku ingin hanya aku yang ada di hatimu. Aku ingin hanya aku yang mengajakmu makan malam romantis. Karena aku sangat mencintaimu. Mungkin kamu anggap aku terlalu egois memaksakan kehendakku tapi aku sudah terlalu lama memendam perasaan ini. Rasanya perasaan ini sudah meluap seperti tsunami di Aceh. Aku sudah nggak kuat lagi membendungnya!” ucapnya dengan nada yang sangat berapi-api sambil mengeluarkan airmata. Aku nggak menyangka bahwa seorang cowok seperti Dito terlihat rapuh karenaku.
Sesaat aku hanya terdiam terpekur melihat dan mendengar pernyataan cinta Dito yang sangat nggak aku duga sebelumnya. Aku nggak menyangka kalau ternyata dia punya perasaan yang sama denganku. Aku nggak pernah menyangka kalau dia akan menyatakan cintanya kepadaku.
“Aku juga sangat mencintaimu, Dito. Aku sudah lama memendam perasaan ini. Aku pikir ini hanyalah khayalan yang tak mungkin terjadi.”
“Maukah kamu menemaniku menghabiskan sisa hidupku yang tak berarti ini tanpamu?” tanyanya.
Aku hanya mengangguk namun sudah bisa meyakinkan hatinya bahwa aku juga sangat mencintainya.
“I love you, Aya.”ucapnya lembut sambil mengelus rambutku yang ada di dekapannya.
“I love you too, Dito.” Jawabku tegas.
Nganjuk, 7 April 2008
Jumat, 05 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar