Jumat, 26 Desember 2008

BODOHNYA AKU.......

KEMAREN AKU DISURUH MEMES BELANJA DI PASAR. JUJUR AJA, AKU MALES BANGET CZ DARI PAGI AKU BELUM MANDI PADAHAL JAM DI RUMAHKU UDAH DI ANGKA 11. TAPI KARENA AKU ANAK YANG BAIK AKHIRNYA AKU PERGI JUGA.

GARA-GARA BELUM MANDI, AKU JADI NGGAK KONSEN DEH. KETIDAK KONSENANKU TERNYATA BERLANJUT. WAKTU UDAH SELESAI BELANJA, AKU TUH LUPA NARUH KUNCI MOTORKU. TIBA-TIBA AJA ILANG NTAH DIMANA (KAYAKNYA KUNCI NGGAK BISA PERGI SENDIRI YA....HEMPF)

UNTUNG AJA ADA ORANG BAIK YANG MAU NOLONGI AKU, DIA MINJEMI AKU MOTORNYA BUAT NGAMBIL KUNCI SEREP MOTOR KU.

SAMPAI RUMAH AKU LANGSUNG NGAMBIL KUNCI SEREP NYA, TRUS KABUR......!!!!!!! PADAHAL WAKTU ITU MEMES MA EBES LIAT DAN NANYA-NANYA HEHEHE.... MAAFKAK AKU IBU, MAAFKAN AKU AYAH

SETELAH SEMUA BERES (MOTOR KUKEMBALIKAN, KUNCI SEREP KUTEMUKAN) AKU BALIK PULANG. NYAMPE RUMAH AKU LANGSUNG DIBOMBARDIR DENGAN BERBAGAI PERTANYAAN KAYAK 'RIAN JOMBANG' (KAYAKNYA NGGAK TERLALU SEGITUNYA, AKU CUMA MENDRAMATISIR ^_^)

UNTUNG AJA MEMES MA EBES KU NGGAK MARAH SAMA ANAKNYA YANG BAIK HATI, SEDIKIT SOMBONG DAN TIDAK SUKA MENABUNG INI.....

MOM N DAD..... I'M SO SORRY...... I LOVE YOU ALL (KAYAK LAGU AJA YA...)

PEACE^_^

Jumat, 05 Desember 2008

lagi-lagi cerpen ku I LOVE YOU

Sekarang ini aku ikut acara perkemahan yang diadakan oleh sekolahku untuk mengisi kegiatan liburan sekolah. Sebenarnya aku males banget sama yang namanya camping. Mending tidur aja di rumah. Kalo nggak gara-gara aku jadi wakil Ketua OSIS yang mesti ikut acara kayak gini paling aku bakalan melarikan diri trus ke “pantai indah kapuk” maksudnya ngorok di kasur hehehe. Kalo aku jadi ketua OSIS programku yang utama adalah menghilangkan kegiatan liburan sekolah, yang namanya liburan pasti nggak ada kegiatan donk hehehe. Tapi yang bikin aku bersemangat karena sang Ketua OSIS, Dito juga ikut apalagi dia salah satu panpelnya. Udah lama nih aku naksir dia, udah dari kelas satu SMA, tapi Cuma jadi secret admirer doank.
Hawa dingin sudah mulai menyelimuti tubuhku. Tulang-tulangku udah mulai linu. Aku nggak habis pikir kenapa camping selalu di gunung? Kenapa nggak pernah camping di mall khan asyik sekalian bisa cuci mata.
Tiba-tiba seseorang menyelimuti tubuhku yang mungkin udah kayak es batu ini dari belakang. Oh My Ghost!!!!! Ternyata Dito yang menyelimuti tubuhku dengan jaket miliknya.
“Thanks” ucapku berusaha santai sambil menenangkan hatiku yang udah loncat-;oncatan nggak karuan. Diapun membalas senyumku.
Hening. Aku nggak tahu mesti mulai pembicaraan dari mana. Bingung plus deg-degan bisa sedekat ini bareng cowok ganteng yang jadi pujaan semua cewek di sekolahku termasuk aku sendiri. Akhirnya Dito yang memecah keheningan duluan “Sekarang kita mau kemana nih?”
“Kita balik aja ke tenda ya. Aku takut kalo teman-teman nyariin kita.” Usulku.
Kalo boleh jujur sih aku pengen banget bilang “Kita di sini aja sampai pagi menjelang. Aku ingin terus berada di sampingmu.” Namun itu nggak mungkin terjadi. Secara, biarpun aku wakil ketua OSIS tapi aku tuh kuper banget, nggak supel kayak Dito yang jadi idaman setiap cewek di sekolahku bahkan pernah ada seorang model yang naksir berat tapi ditolak mentah-mentah olehnya. Tuh anak agak nggak beres deh, ditaksir sama cewek cantik malah nggak mau, katanya dia lagi nunggu sang bidadari yang di siapkan Tuhan untuknya. Puitis banget khan.
Yah memang nasibku yang nggak mungkin mendapatkan seorang pangeran dari negeri khayalan seperti dia itu. Perkemahan akan berakhir. Itu berarti aku dan dia akan kembali ke kehidupan yang sesungguhnya, Dito masih tetap jadi idola sedangkan aku pasti akan kembali menjadi cewek kuper yang terlupakan. 
Saat sudah sampai di depan tendaku, aku mendengar Dito memanggilku. Akupun menoleh ke arahnya.
“Kamu tau nggak Ay?” Tanyanya membuat penasaran.
“Tentang apa?” tanyaku balik.
“Kamu baik banget!!!!.” Ucapnya sambil tersenyum sangat manis di hadapanku. Aku merasa tersanjung. Diapun melanjutkan kalimatnya yang terputus oleh senyum manisnya itu. “Kamu adalah sahabat terbaikku saat ini dan untuk selamanya, Aya.”
Rasanya aku ingin bunuh diri dari tower WTC di AS sana tapi isban udah roboh . Siapa sih yang nggak sedih, kesel, benci dan marah kalo ternyata orang yang dicintai itu hanya mengatakan “Kau adalah temanku. Hanya temanku!!!”
Tapi ya sudahlah daripada aku tidak bisa berdekatan dengannya lagi lebih baik aku mulai mencoba menganggapnya “HANYA” sahabat ( aku tekankan ucapan itu karena aku keseeeeeeeeeeeellllll banget dengan ucapan yang hanya sebuah HANYA ). Namun sebenarnya aku ingin mengatakan kepadanya dengan micropon yang paling keras kalo perlu toa sekalian biar dia dan semua orang di dunai ini dengar bahwa “aku tidak ingin HANYA jadi sahabatmu tapi kekasihmu yang akan menemanimu menghabiskan sisa hidupmu!”
Namun aku mencoba mengatakan “Kau juga sahabat terbaikku, Dit” meskipun dalam hatiku yang paling dalam dan kecilpun tak rela mengatakannya.
Akupun langsung masuk ke tenda. Aku tak ingin Dito melihat diriku yang saat ini sangat hancur dan lapuk. Menutup wajah terutama diriku yang tak berguna ini dengan bantal dan tak menghiraukan Sonya, teman satu tendaku yang bingung melihat tingkah anehku. Aku mencoba menguatkan diri. Aku nggak apa-apa! Aku bisa melewatinya sendirian! Namun itu tak banyak membantu, air mataku terlanjur mengalir deras di pipiku.
“Ay, lo dicariin Dito.” Sonya memberitahuku. Aku tak menjawabnya. Sonyapun kembali keluar. Tak berapa lama seseorang membuka tendaku. Ternyata Dito yang membukanya.
“Hai Ay” sapanya dengan senyum manisnya.
“Ada apa?!” tanyaku ketus.
“Mmm…apa kemarin aku bilang kalo kamu adalah sahabat terbaikku?” tanyanya dengan wajah lucunya biarpun dia bertanya serius. Aku memaksa untuk tertawa. “Sudahlah, lebih baik kita beres-beres dulu. Aku masih belum beres-beres nih. Bentar lagi khan kita pulang.”
Saat di bus pun aku hanya diam seribu bahasa dengannya maupun dengan teman-temanku yang lain. Saat ini aku pengen berenang di laut Artik biar aku lupa dengan kejadian yang memalukan, menyedihkan, menyebalkan itu!!!!!
Hari ini tepat seminggu Dito menganggap aku HANYA teman terbaiknya. Aku harus bisa melupakan perasaan hatiku yang tak mungkin terbalaskan. Hubunganku sekarang tak lebih only friend!!!!
Apakah ini yang disebut sakit hati??? Kenapa harus sesakit ini?!!!!!!! Apakah aku harus menyerah dan mengutuk diriku yang sama sekali nggak berdaya ini??? Tidak!!! Masih banyak yang dapat aku lakukan untuknya. Kalau dia menganggap diriku teman terbaiknya, aku harus bisa jadi teman terbaiknya. Aku tak akan mengecewakannya, itu tekadku!
Apa-apaan sih ini?!!!! Ni orang nggak salah ngajak orang kali. Masa’ cowok sekeren dia ngajak aku yang kuper ini ngedate? Seorang cowok yang tak kalah keren dibanding Dito mengajakku ngedate. Ya, Fa’I mengajakku makan malam di restoran milik bokapnya. Katanya sih Cuma pengen ngajak ngobrol aku aja, tapi Sonya bilang kalau sebenarnya Fa’I akan menembakku saat makan malam itu. Aku bingung!!!bingung!!!!!
Sonya bilang aku mesti dan harus mengiyakan ajakan Fa’i. Tapi aku bingung. Di dalam hatiku masih tersimpan rapat dan rapi kenanganku tentang Dito. Apa yang harus aku lakukan???
Akhirnya aku melaksanakan saran Sonya untuk menanyakan pendapat Dito tentang ajakan Fa’i. karena selain masalah hatiku, mereka berdua ternyata masih teman dekat. Mungkin dengan begitu aku bisa minta saran Dito kalau Fa’I menembakku nanti, Dito pasti tahu tentang Fa’i.
Namun aku harus menelan pil kekecewaan. Karena hari ini Dito nggak masuk sekolah. Kabarnya sih dia lagi sakit. “Udah tiga hari dia nggak masuk” jawab Seno, ketua kelas Dito saat aku tanya soal Dito. Wah berarti parah banget ya sakitnya. Kamu sakit apa, Arjunaku????
Sepulang sekolah, tanpa mencopot sepatu aku langsung ke meja telepon. Aku takut. Rasanya tombol-tombol telepon itu sangat menyeramkan dan akan menerkamku sewaktu-waktu. Tapi aku harus memberanikan diri sebelum aku berubah pikiran.
Tuut…tuuut….cklek! ada yang menjawab.
“Hallo?!” nggak ada jawaban.
“Mau mencari siapa ya?” Oh my Ghost!!!!! Itu suara Dito, dia yang menjawab teleponku! Rasanya aku benar-benar ingin pingsan saat ini juga. Sudah lama aku nggak mendengar suara merdu miliknya itu.
“Hallo!!!!”ucapnya lagi namun sedikit keras karena tidak ada jawaban dariku.
“Oh, eh, ini…a…aku, Aya” jawabku gugup. Sial! Aku nggak boleh kayak gini!!!
Setelah aku menata hatiku yang seperti suara karang yang diterpa badai yang sangat keras, aku mencoba menanyakan keadaannya. “Kamu sakit apa? Parah ya?”
“Nggak kok cuma flu biasa tapi kata dokter nggak boleh masuk dulu. Biar pulih dulu. Kalo aku masuk sekarang bisa-bisa kamu ketularan lagi. Aku khan nggak mau kamu sakit.”
Hah?! Dia mengkhawatirkanku? Apa maksudnya? Apa cuma perasaanku aja yang terlalu berharap?
“Apa maksudnya?” terpaksa kutanyakan daripada ntar malah bikin aku sengsara menjawab pertanyaanku itu. Lebih baik kecewa daripada tak peduli.
Ah… Nggak. Aku nggak pengen aja temanku yang paling baik sampai sakit.”
Aku mencoba menyadari kalau nggak mungkin dia menganggap aku lebih dari seorang sahabat.
Dia mulai mencairkan suasana dengan menanyakan keadaan sekolah selama dia tidak masuk. Akupun menceritakan semuanya. Tak terkecuali dengan ajakan Fa’I nanti malam. Tanpa kuduga sebelumnya setelah aku menceritakan ajakan Fa’I sikapnya berubah total. Aku sulit menebak apa yang ada di hati dan kepalanya saat ini. Benar-benar sebuah teka-teki yang tak ada jawabannya. Semoga dia baik-baik saja.
Akhirnya aku jadi makan malam dengan Fa’i. benar apa yang dikatakan Sonya ternyata Fa’I menembakku. Sekarang ini aku nggak berani membuat keputusan daripada penyesalan yang menghampiriku. Biarpun itu adalah makan malam yang paling special dalam hidupku, aku sama sekali nggak bisa menikmatinya. Selama makan malam yang ada di benakku bukanlah Fa’I yang keren banget pake kemeja putih berkerah dengan wajah menawan melainkan Dito yang sekarang tak berdaya di tempat tidur.
“Dia lagi ngapain ya? Apa dia udah makan? Dia kangen nggak denganku?” pertanyaan terakhir itulah yang membuatku tersentak untuk menyadari bahwa dia hanya menganggapku sebagai seorang teman nggak lebih. Kenyataanlah yang mengharuskanku untuk menerima bahwa aku sekarang sedang bersama Fa’I dan aku nggak boleh memikirkan orang lain saat ini.

***
Saat aku dan Fa’I sudah sampai di depan rumahku setelah makan malam, entah aku sedang berkhayal atau bermimpi tapi aku melihat Dito sedang bersandar dipagar rumahku. Dia memakai jaket pemberianku yang katanya adalah jaket favoritnya itu. Wajahnya terlihat sangat pucat karena kondisinya yang sepertinya belum seratus persen pulih. Akupun menghampirinya. Aku takut kalau terjadi apa-apa dengannya. Setelah aku mengucapkan permintaan maaf dan terima kasih telah mengajakku dinner yang bagiku paling romantis akhirnya Fa’I mengerti. Diapun pamit pulang.
Lima menit berlalu tanpa ada pembicaraan sama sekali. Garing banget nih!!!!
Tiba-tiba…“Aku nggak mau kita bersahabat lagi!!!” ucap Dito tegas.
Hah?!!!!! Kenapa?? Ada apa?? Apa yang terjadi???? Rentetan pertanyaan itu yang sekarang ada di kepalaku. Rasanya batinku ingin berteriak. Tak terasa lelehan air mata menggenangi pipiku. Lagi-lagi aku harus menangis, kegiatan yang tabu bagiku hanya gara – gara dia!!! Menyebalkan!! Kenapa aku serasa begitu lemah di depan dia?! Kenapa aku tak berdaya kalau ada di sampingnya.
Apa yang aku perbuat sampai-sampai Dito nggak mau bersahabat denganku lagi??!!!! Aku hanya bisa menunduk. Aku tidak ingin dia sampai tahu kalau aku menangis.
Perlahan tangan halusnya menyentuh pipiku dan menghapus air mata yang ada di pipiku.
“Aku nggak mau lagi jadi sahabatmu. Tapi aku ingin jadi…….jadi…..seorang yang special buatmu. Aku ingin hanya aku yang ada di hatimu. Aku ingin hanya aku yang mengajakmu makan malam romantis. Karena aku sangat mencintaimu. Mungkin kamu anggap aku terlalu egois memaksakan kehendakku tapi aku sudah terlalu lama memendam perasaan ini. Rasanya perasaan ini sudah meluap seperti tsunami di Aceh. Aku sudah nggak kuat lagi membendungnya!” ucapnya dengan nada yang sangat berapi-api sambil mengeluarkan airmata. Aku nggak menyangka bahwa seorang cowok seperti Dito terlihat rapuh karenaku.
Sesaat aku hanya terdiam terpekur melihat dan mendengar pernyataan cinta Dito yang sangat nggak aku duga sebelumnya. Aku nggak menyangka kalau ternyata dia punya perasaan yang sama denganku. Aku nggak pernah menyangka kalau dia akan menyatakan cintanya kepadaku.
“Aku juga sangat mencintaimu, Dito. Aku sudah lama memendam perasaan ini. Aku pikir ini hanyalah khayalan yang tak mungkin terjadi.”
“Maukah kamu menemaniku menghabiskan sisa hidupku yang tak berarti ini tanpamu?” tanyanya.
Aku hanya mengangguk namun sudah bisa meyakinkan hatinya bahwa aku juga sangat mencintainya.
“I love you, Aya.”ucapnya lembut sambil mengelus rambutku yang ada di dekapannya.
“I love you too, Dito.” Jawabku tegas.

Nganjuk, 7 April 2008

ni cerpen ku judulnya "MODERN VS KONVENSIONAL"

Damar mengamati tubuh langsing yang baru saja keluar dari kantin. Gadis itu selalu memakai baju jadul.Yaitu rok yang panjangnya sampai betis dan blus berwarna lembut,berlengan panjang dengan motif yang sederhana bahkan dapat dikatakan apa adanya.

Damar kadang-kadang heran, kok masih ada ya gadis konvensional di zaman se-modern ini?. Saat para gadis berlomba-lomba memakai rok mini dan berdandan menor, Andien justru tampil bersahaja ! Iya, Andien yang dapat membuat Damar terkagum-kagum.

Bukan itu saja yang menjadi alasan Damar tergila-gila pada Andien, tapi juga sikap sederhananya Andien.

Damar tersadar dari lamunannya tentang cewek itu setelah Andien masuk ke perpustakaan. Setelah bayangan Andien hilang, Damar menghela nafas panjang.

# # #

Andien melangkah masuk ke kantin tepat saat Damar sudah mencapai bibir pintu. Dan Damar nggak pengen menyia-nyiakan kesempatan ini.

“ Hai, Dien ?” sapa Damar

“ Hai, Mau makan siang ?” Tanya Andien

Damar mengangguk, “ Boleh dong gue duduk bareng kamu ?”

“ Tentu saja “ jawab Andien.

“ Elu mau pesan apa ?” Tanya Damar. Andien menjawab, “ Es jeruk saja”

“ Wah lagi diet ya ?” Damar menggoda

“ Ah enggak. Aku suka aja dengan rasa es jeruk. Saat kita merasakan manis tiba-tiba rasa asam menyergap. Seperti hidup kita yang tidak selamanya manis tapi juga asam “ ucap Andien berwibawa.

“ Ternyata elu beda dibandingkan cewek-cewek lain” Damar mencoba memuji

“ Ah kamu bisa saja. Justru aku ketinggalan jaman. “ Andien mulai merendah.

Sejak saat, itu mereka mulai akrab.Mereka sering terlihat berduaan di kantin maupun di perpustakaan.

Surya teman Damar yang melihat kelakuan aneh Damar,bertanya ke Damar,”Mar,sebenernya elo tuh bisa ngedapetin cewek yang lebih keren dan lebih cantik dibandingin Andien. Tapi elo malah milih dia. Emang apa sih istimewanya dia, sampai-sampai elu kepincut sama dia?”

“Dia tuh beda dibandingin cewek-cewek lain. Sifatnya, cara bicaranya apalagi cara pandangnya menghadapi hidup tuh beda banget sama cewek-cewek lain. Dan itu yang bikin gue kepincut sama dia.” Damar antusias untuk memuji Andien. Surya yang di dekatnya Cuma bisa pasrah.

Setelah melakukan pedekate, Damar pengen jadi orang istimewa di hati Andien. Dia melihat Andien memasuki kantin. Damar langsung ke kantin buat nemuin Andien.

Damar duduk di depan Andien setelah dapat ijin dari Andien buat duduk di sana. Setelah pesan es jeruk kesukaan mereka, Damar basa-basi menanyakan kabar sebelum ke inti masalah yang mau dibicarakannya.”Dien,gimana kabar lu?” Damar sok basa-basi.

“Baik. Kamu ?” Andien balik nanya.

“Sebenarnya sih nggak terlalu baik. Soalnya gue lagi nunggu kepastian dari seseorang yang bisa bikin hidup gue berubah.”Damar mulai menyinggung masalahnya

“Emang kamu lagi nunggu kepastian nilai dari Pak Warto?” pertanyaan Andien bikin Damar ketawa dan itu bikin Andien bingung.

“Kok malah ketawa. Ada yang lucu?”Andien bingung.

“Ah enggak. Tapi yang bikin gue ketawa tuh soal kenapa kok Pak Warto diikut-ikutin segala. Tugas gue udah gue serahin ke Pak Warto kok. Lagian ini bukan masalah itu.” Damar masih nahan tawanya.

“Trus kalo gitu masalahnya apa?” Andien pengen tahu penyebab Damar ketawa.

“Tapi elu jangan marah sama gue ya. Sekarang gue mau tanya. Dien,elu sekarang udah punya cowok apa belum. Trus kriteria cowok lu tuh kayak gimana sih?Sampai-sampai lu kok mesti pilih-pilih cowok.

Andien tersenyum dengar kata-kata Damar,”Aku belum punya cowok. Lagian,siapa sih yang mau sama aku yang jadul banget kayak gini.”jelasnya.

“Lho,kalo gue pikir lu tuh unik. Nggak banyak cewek di dunia ini yang kayak lu. Lu tetep berkiblat sama budaya timur meski banyak cewek yang ikut-ikutan sama budaya barat.” Damar menjelaskan keistimewaan dari seorang Andien yang bikin Andien ketawa.”Hi..hi..Mar,kamu tuh lucu ya.”

“Ini bukan lelucon! Gue serius! Selama ini gue pengen punya pacar yang teguh sama pendiriannya meski di sekelilingnya mempengaruhinya buat berubah. Gue suka elu. Lu mau gak jadi pacar gue?”perkataan Damar yang langsung tanpa tedeng aling-aling bikin Andien terkejut.

“Tapi kita khan baru kenal,Mar. Aku nggak bisa nerima kamu,Mar. Aku Cuma nganggep kamu teman. Sorry.” Andien mengatakannya dengan sangat hati-hati biar Damar nggak tersinggung.

“Jadi elu nolak gue?Ha..ha..baru kali ini gue ditolak cewek. Seorang Damar ditolak cewek jelek yang kuper dan sama sekali bukan tipe gue.” Damar sangat marah ditolak Andien.”Inget,gue nggak akan macarin elu. Ngerti lu!” kata Damar keras sambil nunjukin telunjuknya ke arah Andien yang bikin orang yang ada di kantin memperhatikan mereka.

“Maafkan aku,Mar. aku bukan wanita yang pantas untukmu. Masih banyak wanita yang pantas untukmu. Semoga kamu bahagia meskipun hatiku pedih.”Andien berkata lirih sambil meneteskan airmatanya setelah Damar keluar dari kantin meninggalkannya sendirian meratapi nasibnya.

# # #

Sudah seminggu Andien nggak ketemu sama Damar. Dia nggak tahu dimana Damar sekarang. Dia menyesal telah merusak segala yang diimpi-impikannya.

Saat Andien melewati kelas Damar, tak sengaja dia melihat Damar dengan jelas sedang berciuman dengan Rahma yang gosipnya suka sama Damar.

“Aneh. Kenapa tiba-tiba hatiku sakit sekali,dadakupun sesak.kenapa aku nggak rela dia bersama cewek yang jelas-jelas sangat pantas untuknya.” Gumam Andien setelah meninggalkan pemandangan yang bikin dia sesak napas.

# # #

“Da, kamu pernah nggak sesak napas waktu melihat seorang teman cowokmu sedang berciuman dengan wanita lain?”Tanya Andien ke Rida yang punya segudang pengalaman soal cinta.

Rida kaget bukan kepalang dengar Andien yang cupu banget bisa nanyain soal cinta.”Emang elu lagi sakit hati? Gue nggak nyangka elu bisa sakit hati juga. Gue pikir elu nggak mikirin hal itu.”

“Ah, Rida. Jangan mengejek donk!” Andien malu.

“Iya,iya. Gue akan deteksi penyakit cinta lu itu. Kalo gue pikir,elu lagi sakit ati. Pasti cowok yang elu liat tuh cowok yang elu suka. Emang elu lagi suka sama siapa? Cerita donk sama gue.”Rida memberi solusi ke Andien yang baru pertama kali jatuh cinta.

“Iya nih,Da. Aku lagi suka sama seseorang yang nggak mungkin aku dapatkan. Dulu kita pernah dekat, bahkan dia sudah menyatakan perasaannya padaku. Tapi aku takut kalo dia cuma mempermainkanku. Soalnya dia terkenal playboy. Gimana Da?”

“Dia anak sini?”Tanya Rida.Andien mengangguk. Rida mencoba menebak siapa cowok itu,”Jangan bilang kalo cowok yang elu maksud itu Damar.”lagi-lagi Andien mengangguk.

“Oh my God! Elu gila ya? Damar khan banyak yang suka,cantik-cantik lagi. Elu nggak lagi mimpi khan? Masak dia pernah nembak elu?” Rida nggak percaya.

“Iya. Waktu itu aku baru aja kenalan sama dia. Tiba-tiba dia nembak aku di kantin.”Andien menjelaskan

“Udah tau dia suka elu,kenapa dulu elu nolak dia?” Rida bingung liat keputusan aneh Andien nolak cowok keren kayak Damar.

“Waktu itu aku pikir dia cuma mainin aku aja. Mungkin aja aku cuma dijadiin taruhan buat dia. Iya khan.” Andien menjelaskan.

“Kalo gue pikir dia tuh nggak mungkin kayak gitu. Gue tau dia. Dia tuh sangat menjunjung harga diri cewek. Dia deket banget sama ibunya yang bikin dia nggak akan ngecewain cewek meski dia playboy. Coba deh elu tanya sama mantan-mantannya Damar,pasti mereka bilang nggak nyesel pacaran sama dia.” Rida menjelaskan

“Kok kayaknya kamu tau segala tentang Damar? Jangan-jangan kamu pernah pacaran sama dia ya?” Andien menggoda

Rida kaget dengar kesimpulan Andien yang bikin ketawa,”Hah,gue tuh nggak boleh pacaran sama dia tau!”

# # #

“Dien,gue mau ngomong. Bisa?”Tanya seseorang di belakang Andien yang sangat dikenalnya saat Andien sedang minum es jeruk kesukaannya yang membuatnya harus menengok ke asal suara itu.

“Ternyata benar dugaanku.”kata Andien lirih setelah melihat cowok di belakangnya yang ternyata adalah Damar.

“Boleh gue duduk di sini?”Tanya Damar ke Andien yang masih terkejut.

“Oh,boleh-boleh. Ada apa,kok tumben nyariin aku?” Tanya Andien yang masih kaget.

“Gue boleh pesen es jeruk dulu khan?” Tanya Damar yang lebih tepatnya minta persetujuan Andien.

“Oh,tentu saja.”Andien menyetujui dengan kikuk.

Setelah itu Damar pergi mengambil minuman. Tak lama kemudian Damar sudah kembali sambil membawa segelas es jeruk.

“Ada apa nih?” Andien menanyakan hal yang belum dijawab Damar.

“Aku cuma mau nanya kebenaran pernyataan lu sama Rida soal gue. Apa semua yang elu omongin soal gue itu bener?”Damar langsung ke pokok pembicaraan.

Andien terkejut kalau Damar tahu soal apa yang dia bicarakan sama Rida. Jangan-jangan Damar menguping pembicaraanya.”Kok kamu tau soal itu?”

“Ya gue tau lah. Khan gue adik sepupu kesayangannya Rida. Jadi gue langsung tau kalo elu sakit ati ngeliat gue sama Rahma.”

“Astaga!pantesan aja Rida tau segalanya tentang kamu.” Andien akhirnya tahu segalanya.

Damar ketawa melihat wajah Andien yang kayak orang bego,”Elu lucu banget sih, Dien. Gue tambah suka sama elu deh.” Kata-kata Damar yang alami itu bikin wajah Andien merah kayak kepiting rebus.

“Apa-apaan sih kamu. Kamu khan dulu pernah janji nggak akan macarin aku. Inget nggak! Lagian gimana dengan Rahma? Aku nggak mau dikatakan sebagai cewek perebut cowok orang. Ngerti kamu!” kata Andien tegas.

“Ha…ha…elu ternyata polos banget ya.” Lagi-lagi Damar ketawa.”Gue tuh emang pernah ciuman sama Rahma tapi gue nggak cinta dia. Lagian waktu itu kita cuma latihan buat pementasan drama doang. Gue khan cuma cinta sama elu seorang.” Rayu Damar. “Lagian, gue udah janji sama Rida nggak bakalan nyakitin elu. Dia kuatir gue ntar nyakitin elu.”tambah Damar meyakinkan

“Gombal! Aku capek denger rayuan gombalmu itu. Aku tuh mau bukti bukan janji.” Kata Andien tegas.

“OK,gue akan ngelakuin apapun buat lu. Dan gue nggak mau macarin elu tapi mau ngelamar elu. Apa itu kurang cukup?” Tanya Damar meminta penjelasan.

Andien terkejut mendengar Damar akan melamarnya,”Apa-apaan sih kamu. Aku nggak mau buru-buru. Tapi kamu harus janji kalo nantinya kamu harus melamarku!” kata Andien santai namun bisa bikin Damar terkejut dan gembira campur jadi satu.

“Apa yang lu katakan itu serius?nggak bohong khan?” Damar membombardir Andien dengan pertanyaannya yang segudang itu.

“Serius! Nggak bohong!”

“Alhamdulillah. Terima kasih Tuhan engkau telah memberikanku bidadari yang sangat cantik dan sangat baik. Andien,gue sayang elu.” Kata Damar sambil memandang Andien dengan perasaan sayang

Andien membalas kata-kata Damar tak kalah sayangnya,” I love you too,honey.”

Damar mengamati tubuh langsing yang baru saja keluar dari kantin. Gadis itu selalu memakai baju jadul.Yaitu rok yang panjangnya sampai betis dan blus berwarna lembut,berlengan panjang dengan motif yang sederhana bahkan dapat dikatakan apa adanya.
Damar kadang-kadang heran, kok masih ada ya gadis konvensional di zaman se-modern ini?. Saat para gadis berlomba-lomba memakai rok mini dan berdandan menor, Andien justru tampil bersahaja ! Iya, Andien yang dapat membuat Damar terkagum-kagum.
Bukan itu saja yang menjadi alasan Damar tergila-gila pada Andien, tapi juga sikap sederhananya Andien.
Damar tersadar dari lamunannya tentang cewek itu setelah Andien masuk ke perpustakaan. Setelah bayangan Andien hilang, Damar menghela nafas panjang.
# # #
Andien melangkah masuk ke kantin tepat saat Damar sudah mencapai bibir pintu. Dan Damar nggak pengen menyia-nyiakan kesempatan ini.
“ Hai, Dien ?” sapa Damar
“ Hai, Mau makan siang ?” Tanya Andien
Damar mengangguk, “ Boleh dong gue duduk bareng kamu ?”
“ Tentu saja “ jawab Andien.
“ Elu mau pesan apa ?” Tanya Damar. Andien menjawab, “ Es jeruk saja”
“ Wah lagi diet ya ?” Damar menggoda
“ Ah enggak. Aku suka aja dengan rasa es jeruk. Saat kita merasakan manis tiba-tiba rasa asam menyergap. Seperti hidup kita yang tidak selamanya manis tapi juga asam “ ucap Andien berwibawa.
“ Ternyata elu beda dibandingkan cewek-cewek lain” Damar mencoba memuji
“ Ah kamu bisa saja. Justru aku ketinggalan jaman. “ Andien mulai merendah.
Sejak saat, itu mereka mulai akrab.Mereka sering terlihat berduaan di kantin maupun di perpustakaan.
Surya teman Damar yang melihat kelakuan aneh Damar,bertanya ke Damar,”Mar,sebenernya elo tuh bisa ngedapetin cewek yang lebih keren dan lebih cantik dibandingin Andien. Tapi elo malah milih dia. Emang apa sih istimewanya dia, sampai-sampai elu kepincut sama dia?”
“Dia tuh beda dibandingin cewek-cewek lain. Sifatnya, cara bicaranya apalagi cara pandangnya menghadapi hidup tuh beda banget sama cewek-cewek lain. Dan itu yang bikin gue kepincut sama dia.” Damar antusias untuk memuji Andien. Surya yang di dekatnya Cuma bisa pasrah.
Setelah melakukan pedekate, Damar pengen jadi orang istimewa di hati Andien. Dia melihat Andien memasuki kantin. Damar langsung ke kantin buat nemuin Andien.
Damar duduk di depan Andien setelah dapat ijin dari Andien buat duduk di sana. Setelah pesan es jeruk kesukaan mereka, Damar basa-basi menanyakan kabar sebelum ke inti masalah yang mau dibicarakannya.”Dien,gimana kabar lu?” Damar sok basa-basi.
“Baik. Kamu ?” Andien balik nanya.
“Sebenarnya sih nggak terlalu baik. Soalnya gue lagi nunggu kepastian dari seseorang yang bisa bikin hidup gue berubah.”Damar mulai menyinggung masalahnya
“Emang kamu lagi nunggu kepastian nilai dari Pak Warto?” pertanyaan Andien bikin Damar ketawa dan itu bikin Andien bingung.
“Kok malah ketawa. Ada yang lucu?”Andien bingung.
“Ah enggak. Tapi yang bikin gue ketawa tuh soal kenapa kok Pak Warto diikut-ikutin segala. Tugas gue udah gue serahin ke Pak Warto kok. Lagian ini bukan masalah itu.” Damar masih nahan tawanya.
“Trus kalo gitu masalahnya apa?” Andien pengen tahu penyebab Damar ketawa.
“Tapi elu jangan marah sama gue ya. Sekarang gue mau tanya. Dien,elu sekarang udah punya cowok apa belum. Trus kriteria cowok lu tuh kayak gimana sih?Sampai-sampai lu kok mesti pilih-pilih cowok.
Andien tersenyum dengar kata-kata Damar,”Aku belum punya cowok. Lagian,siapa sih yang mau sama aku yang jadul banget kayak gini.”jelasnya.
“Lho,kalo gue pikir lu tuh unik. Nggak banyak cewek di dunia ini yang kayak lu. Lu tetep berkiblat sama budaya timur meski banyak cewek yang ikut-ikutan sama budaya barat.” Damar menjelaskan keistimewaan dari seorang Andien yang bikin Andien ketawa.”Hi..hi..Mar,kamu tuh lucu ya.”
“Ini bukan lelucon! Gue serius! Selama ini gue pengen punya pacar yang teguh sama pendiriannya meski di sekelilingnya mempengaruhinya buat berubah. Gue suka elu. Lu mau gak jadi pacar gue?”perkataan Damar yang langsung tanpa tedeng aling-aling bikin Andien terkejut.
“Tapi kita khan baru kenal,Mar. Aku nggak bisa nerima kamu,Mar. Aku Cuma nganggep kamu teman. Sorry.” Andien mengatakannya dengan sangat hati-hati biar Damar nggak tersinggung.
“Jadi elu nolak gue?Ha..ha..baru kali ini gue ditolak cewek. Seorang Damar ditolak cewek jelek yang kuper dan sama sekali bukan tipe gue.” Damar sangat marah ditolak Andien.”Inget,gue nggak akan macarin elu. Ngerti lu!” kata Damar keras sambil nunjukin telunjuknya ke arah Andien yang bikin orang yang ada di kantin memperhatikan mereka.
“Maafkan aku,Mar. aku bukan wanita yang pantas untukmu. Masih banyak wanita yang pantas untukmu. Semoga kamu bahagia meskipun hatiku pedih.”Andien berkata lirih sambil meneteskan airmatanya setelah Damar keluar dari kantin meninggalkannya sendirian meratapi nasibnya.
# # #
Sudah seminggu Andien nggak ketemu sama Damar. Dia nggak tahu dimana Damar sekarang. Dia menyesal telah merusak segala yang diimpi-impikannya.
Saat Andien melewati kelas Damar, tak sengaja dia melihat Damar dengan jelas sedang berciuman dengan Rahma yang gosipnya suka sama Damar.
“Aneh. Kenapa tiba-tiba hatiku sakit sekali,dadakupun sesak.kenapa aku nggak rela dia bersama cewek yang jelas-jelas sangat pantas untuknya.” Gumam Andien setelah meninggalkan pemandangan yang bikin dia sesak napas.
# # #
“Da, kamu pernah nggak sesak napas waktu melihat seorang teman cowokmu sedang berciuman dengan wanita lain?”Tanya Andien ke Rida yang punya segudang pengalaman soal cinta.
Rida kaget bukan kepalang dengar Andien yang cupu banget bisa nanyain soal cinta.”Emang elu lagi sakit hati? Gue nggak nyangka elu bisa sakit hati juga. Gue pikir elu nggak mikirin hal itu.”
“Ah, Rida. Jangan mengejek donk!” Andien malu.
“Iya,iya. Gue akan deteksi penyakit cinta lu itu. Kalo gue pikir,elu lagi sakit ati. Pasti cowok yang elu liat tuh cowok yang elu suka. Emang elu lagi suka sama siapa? Cerita donk sama gue.”Rida memberi solusi ke Andien yang baru pertama kali jatuh cinta.
“Iya nih,Da. Aku lagi suka sama seseorang yang nggak mungkin aku dapatkan. Dulu kita pernah dekat, bahkan dia sudah menyatakan perasaannya padaku. Tapi aku takut kalo dia cuma mempermainkanku. Soalnya dia terkenal playboy. Gimana Da?”
“Dia anak sini?”Tanya Rida.Andien mengangguk. Rida mencoba menebak siapa cowok itu,”Jangan bilang kalo cowok yang elu maksud itu Damar.”lagi-lagi Andien mengangguk.
“Oh my God! Elu gila ya? Damar khan banyak yang suka,cantik-cantik lagi. Elu nggak lagi mimpi khan? Masak dia pernah nembak elu?” Rida nggak percaya.
“Iya. Waktu itu aku baru aja kenalan sama dia. Tiba-tiba dia nembak aku di kantin.”Andien menjelaskan
“Udah tau dia suka elu,kenapa dulu elu nolak dia?” Rida bingung liat keputusan aneh Andien nolak cowok keren kayak Damar.
“Waktu itu aku pikir dia cuma mainin aku aja. Mungkin aja aku cuma dijadiin taruhan buat dia. Iya khan.” Andien menjelaskan.
“Kalo gue pikir dia tuh nggak mungkin kayak gitu. Gue tau dia. Dia tuh sangat menjunjung harga diri cewek. Dia deket banget sama ibunya yang bikin dia nggak akan ngecewain cewek meski dia playboy. Coba deh elu tanya sama mantan-mantannya Damar,pasti mereka bilang nggak nyesel pacaran sama dia.” Rida menjelaskan
“Kok kayaknya kamu tau segala tentang Damar? Jangan-jangan kamu pernah pacaran sama dia ya?” Andien menggoda
Rida kaget dengar kesimpulan Andien yang bikin ketawa,”Hah,gue tuh nggak boleh pacaran sama dia tau!”
# # #
“Dien,gue mau ngomong. Bisa?”Tanya seseorang di belakang Andien yang sangat dikenalnya saat Andien sedang minum es jeruk kesukaannya yang membuatnya harus menengok ke asal suara itu.
“Ternyata benar dugaanku.”kata Andien lirih setelah melihat cowok di belakangnya yang ternyata adalah Damar.
“Boleh gue duduk di sini?”Tanya Damar ke Andien yang masih terkejut.
“Oh,boleh-boleh. Ada apa,kok tumben nyariin aku?” Tanya Andien yang masih kaget.
“Gue boleh pesen es jeruk dulu khan?” Tanya Damar yang lebih tepatnya minta persetujuan Andien.
“Oh,tentu saja.”Andien menyetujui dengan kikuk.
Setelah itu Damar pergi mengambil minuman. Tak lama kemudian Damar sudah kembali sambil membawa segelas es jeruk.
“Ada apa nih?” Andien menanyakan hal yang belum dijawab Damar.
“Aku cuma mau nanya kebenaran pernyataan lu sama Rida soal gue. Apa semua yang elu omongin soal gue itu bener?”Damar langsung ke pokok pembicaraan.
Andien terkejut kalau Damar tahu soal apa yang dia bicarakan sama Rida. Jangan-jangan Damar menguping pembicaraanya.”Kok kamu tau soal itu?”
“Ya gue tau lah. Khan gue adik sepupu kesayangannya Rida. Jadi gue langsung tau kalo elu sakit ati ngeliat gue sama Rahma.”
“Astaga!pantesan aja Rida tau segalanya tentang kamu.” Andien akhirnya tahu segalanya.
Damar ketawa melihat wajah Andien yang kayak orang bego,”Elu lucu banget sih, Dien. Gue tambah suka sama elu deh.” Kata-kata Damar yang alami itu bikin wajah Andien merah kayak kepiting rebus.
“Apa-apaan sih kamu. Kamu khan dulu pernah janji nggak akan macarin aku. Inget nggak! Lagian gimana dengan Rahma? Aku nggak mau dikatakan sebagai cewek perebut cowok orang. Ngerti kamu!” kata Andien tegas.
“Ha…ha…elu ternyata polos banget ya.” Lagi-lagi Damar ketawa.”Gue tuh emang pernah ciuman sama Rahma tapi gue nggak cinta dia. Lagian waktu itu kita cuma latihan buat pementasan drama doang. Gue khan cuma cinta sama elu seorang.” Rayu Damar. “Lagian, gue udah janji sama Rida nggak bakalan nyakitin elu. Dia kuatir gue ntar nyakitin elu.”tambah Damar meyakinkan
“Gombal! Aku capek denger rayuan gombalmu itu. Aku tuh mau bukti bukan janji.” Kata Andien tegas.
“OK,gue akan ngelakuin apapun buat lu. Dan gue nggak mau macarin elu tapi mau ngelamar elu. Apa itu kurang cukup?” Tanya Damar meminta penjelasan.
Andien terkejut mendengar Damar akan melamarnya,”Apa-apaan sih kamu. Aku nggak mau buru-buru. Tapi kamu harus janji kalo nantinya kamu harus melamarku!” kata Andien santai namun bisa bikin Damar terkejut dan gembira campur jadi satu.
“Apa yang lu katakan itu serius?nggak bohong khan?” Damar membombardir Andien dengan pertanyaannya yang segudang itu.
“Serius! Nggak bohong!”
“Alhamdulillah. Terima kasih Tuhan engkau telah memberikanku bidadari yang sangat cantik dan sangat baik. Andien,gue sayang elu.” Kata Damar sambil memandang Andien dengan perasaan sayang
Andien membalas kata-kata Damar tak kalah sayangnya,” I love you too,honey.”